Apr
8th

ALLAH haruskah Dia Diktator (berkehendak semaunya)

Author: Ayruel | Files under Islam

Assalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh…

ALLAH adalah robbul alamin.pencipta alam semesta mestinya tak mempunyai kekurangan.Tapi ketika saya mengetahui ALLAH berkehendak semaunya(dalil tentang ini sih sangat banyak..silahkan buka kembali alqur’an).Saya lantas terpikir,seakan2 ALLAH begitu kejam & sadis.Dia jadikan seseorang masuk neraka sekehendaknya,dia jadikan seseorang kafir,miskin,cacat dll sekehendaknya.

Tapi alhamdulillah…setelah saya mintak petunjukNYA..saya yakin diberiNYA,karena itu hal sepele baginya(menciptakan alam semesta aja cukup kun fayakun)Kata2 diktator atau berkehendak semaunya ternyata hanya jelek,sadis ataupun kejam dalam pengertian kita sehari2.Contoh gampang dalam kehidupan kita sehari2,seorang raja yang sewena2 akan dianggap kejam bagi rakyatnya.Akankah itu berlaku Bagi ALLAH…jelas tidak,karena Dia yang ciptakan kita,Dia yang ciptakan alam semesta ini.sangatlah logika kalau pencipta punya hak kuasa akan ciptaannya,bukan sebaliknya.Jelas tak mungkin pencipta diatur oleh ciptaannya.kita saja manusia diberi kelebihan mengolah dunia ini,kita bisa atau mampu membikin Mobil,kita tahu apa itu fungsinya stir,roda dll dan semuanya kita kendalikan.bagaimana dengan alam semesta ini yang diciptakan ALLAH.Tentu saja dia Maha tahu akan apa kegunaannya matahari,bulan ,bumi,manusia,jin,kafir,islam dll.

Hmmmmmmmmm yang jelas, ALLAH Maha Mengetahui akan segala2nya.

Wassalam…

4 responses. Wanna say something?

  1. haniifa
    Apr 8, 2008 at 17:53:46
    #1

    Assalamu alaikum.
    Saya juga heiran mas, jika membaca beberapa postingan yang cenderung menggunakan kata “diktaktor”, insya Allah saya yakin bukan dari kaum “muslim”. Bukankah dalam surah Al Ikhlas jelas dikatakan bahwa “tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia” artinya yach tidak bisa dimodelkan seperti manusia.
    Wassalam.

    @Waalaikum salam
    Bener tuh hanifa..kenapa pola berpikir orang tentang ALLAH kebanyakan masih bawa2 alam manusianya,Mudah2an kita terhindar dari itu..dan mudah2an diberi hidayah hingga mendapatkan shirothol mustakim (amiin)

  2. agorsiloku
    Apr 8, 2008 at 22:19:22
    #2

    Yap.. saya juga termasuk yang prihatin dgn model berpikir begini. Karena model seperti ini diposisikan dalam cara berpikir mahluk ciptaan. Bukan hanya pada kata Diktator, tapi bisa juga dengan kata lain.
    Tapi begitulah…sulit rasanya hati ini menerima.

    @
    saya sangat tersanjung dengan kehadiran pak agor ke blog saya yang belum tentu arah ini..
    saya cuma coba2 belajar bikin blog tapi nggak tahu topic apaan yang akan dibikin…maklum ..

  3. herianto
    Apr 9, 2008 at 18:57:56
    #3

    Kalo saja berkehendak semaunya itu dianalogikan dengan diktator, maka [menurut saya] benarlah itu sifat Allah. Allah Maha Berkehendak.
    Tapi disamping maha berkehendak bukankah Allah juga Maha Penyayang, Maha Adil, Maha … dstnya yang dalam pemahaman kita mungkin maknanya lebih sejuk (positif).
    Allah memang kita kenal melalui sifat2 NYA dan segala Ciptaan-NYA.
    Wallahu a’lam.

    Salam kenal… urang awak ya ? :lol:

    @
    Benar kata mas herianto…
    salam kenal juga ,iya rang minang asli ..baru belajar blog,ajari juga saya ya…mas herianto

  4. Abudaniel
    Apr 17, 2008 at 16:56:07
    #4

    Assalamu’alaikum,
    Benar Allah diktator. Lho kok?. Kalau nggak diktator bukan Allah namanya. Kalau Allah katakan babi.. haram!. Ya haram. Yang menghalalkan masuk neraka!.
    Sholat, wajib. Jangan sengaja meninggalkannya. Masuk neraka!. Kok begitu sekali. Benar. Harus begitu. Kalau Allah tidak tegas. Kalau Allah tidak bersikap “diktator”, maka ketentuan yang dikeluarkan Allah akan dibuat main-main.
    Allah telah cukup menerangkan aturan-aturanNya. Baik suruhan maupun laranganNya. Bukan hanya itu saja. Allah juga menentukan “Reward and Punishmnet” terhadap suruhan dan laranganNya. Allah juga telah menerangkan akan ada Neraka dan Surga.
    Jelas suruhanNya dan jelas pula larangaNya. Tapi kita saja yang masih mau melanggarnya. Kalau sudah tahu masih melanggar, berarti sombong. Kalau sudah tahu masih melanggar, berarti sudah siap menanggung segala akibat dan konsekuensinya. Jangan Alah yang disalahkan.
    Bukankah orang yang tidak tahu dan belum tahu kalau melanggar aturan Allah tidak menerima hukuman?. Bukankah orang yang kurang akal (gila), tidak sadar alias linglung dan latah juga tidak dihitung sebagai pelanggar aturan atau pelaku dosa?. Bukankah orang yang dipaksa juga dibebaskan dari hukuman Allah?.Bukankah orang pingsan, setelah sadar tidak harus mengqodho sholat?. Begitu juga orang yagn tertidur.
    Jadi “kediktatoran” Allah hanya berlaku kepada orang yang sudah diberi tahu dan sadar. Allah tidak semena-mena menggunakan hak “kediktatoranNya”. Allah bertindak “diktator” karena Ia sangat sayang kepada makhluk ciptaanNya.
    Wassalam,

    Waalaikum salam abudaniel
    Sangat menambah penjelasannya…Terimakasih
    Yang jelasnya,permasalahan yang banyak terjadi adalah Kita lupa akan ketidaktahuan kita akan apa yang ALLAH kehendaki.Terimakasih atas kunjungan abudaniel di blog yg belum tentu arah ini

Post a Comment